Jumat, 17 Januari 2020

Si Pungguk Merindukan Bulan

Kamu yang pernah aku kagumi,

Dengarkan aku yang  tak pernah penting ini.
Bisa dibilang mengaggumi itu termasuk kesempatan semua orang. Meskipun juga beresiko diabaikan.
Sebab, rasa kagumku yang berlebihan menjadikan kekecewaan yang begitu memilukan.

Aku terlalu pecundang untuk menampakan keberadaan sebagai seseorang yang menganggumi dalam dalam. Aku jadi teringat sebuah kisah menarik tentang pemuda yang diam-diam mengaggumi wanita pujaannya.  Cerita dari dongeng yang mahsyur. Si Pungguk Merindukan Bulan. Mungkin kau tahu bagaimana cerita ini bergurlir. Dari seorang pemuda tampan yang secara tidak sengaja melihat putri bulan, dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun ada sekat-sekat tebal bernama strata sosial yang pada akhirnya membuat mereka tak bisa bersatu. Hingga di akhir cerita. Si pemuda tampan tadi hanya mampu memandangi putri bulan dari kejauhan, berharap cintanya bersambut tapi tiada jua.


Ah...
Aku cukup tahu diri untuk tidak mengganggu kehidupanmu dengan cinta gombal penuh basa-basi dan intrik-intrik murahan. Biarlah aku tetap menjadi misteri yang tak perlu kau tahu rupanya. Biarlah aku menjadi Si Pungguk Merindukan Bulan yang memeluk pesonamu dari kejauhan. Toh bila akhirnya aku atau kau adalah baik bagi semesta, semesta akan selalu punya cara untuk mempertemukan kita.

Tuan, ketika malam ini tiba kau merasa bahagia, semoga itu adalah pertanda bahwa salah satu doaku telah terkabul. Sebab dipikiranku kau tetap menjadi perihal-perihal sederhana, pelajaran berharga atau cerita luar biasa yang tak mungkin tamat begitu saja. 
-wlndr

aku masih,

Kemarin, aku menangkap warna matamu, masih tetap indah, masih persis seperti tatapan yang aku ingat. Kamu tau? Aku tenggelam disana, sejak p...