Kamu yang pernah aku kagumi,
Dengarkan aku yang tak pernah penting
ini.
Bisa dibilang mengaggumi itu termasuk
kesempatan semua orang. Meskipun juga beresiko diabaikan.
Sebab, rasa kagumku yang berlebihan menjadikan
kekecewaan yang begitu memilukan.
Aku terlalu pecundang untuk menampakan keberadaan
sebagai seseorang yang menganggumi dalam dalam. Aku jadi teringat sebuah kisah
menarik tentang pemuda yang diam-diam mengaggumi wanita
pujaannya. Cerita dari dongeng yang mahsyur. Si Pungguk Merindukan
Bulan. Mungkin kau tahu bagaimana cerita ini bergurlir. Dari seorang pemuda
tampan yang secara tidak sengaja melihat putri bulan, dan jatuh cinta pada
pandangan pertama. Namun ada sekat-sekat tebal bernama strata sosial yang pada
akhirnya membuat mereka tak bisa bersatu. Hingga di akhir cerita. Si pemuda
tampan tadi hanya mampu memandangi putri bulan dari kejauhan, berharap cintanya
bersambut tapi tiada jua.
Ah...
Aku cukup tahu diri untuk tidak mengganggu
kehidupanmu dengan cinta gombal penuh basa-basi dan intrik-intrik murahan.
Biarlah aku tetap menjadi misteri yang tak perlu kau tahu rupanya. Biarlah aku
menjadi Si Pungguk Merindukan Bulan yang memeluk pesonamu dari kejauhan. Toh
bila akhirnya aku atau kau adalah baik bagi semesta, semesta akan selalu punya
cara untuk mempertemukan kita.
Tuan, ketika malam ini tiba kau merasa bahagia,
semoga itu adalah pertanda bahwa salah satu doaku telah terkabul. Sebab
dipikiranku kau tetap menjadi perihal-perihal sederhana, pelajaran berharga
atau cerita luar biasa yang tak mungkin tamat begitu saja.
-wlndr